Festival Didong 2022 Sukses, Ragam Kesenian Budaya Gayo Ditampilkan

29
Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh melalui bidang Bahasa dan Seni menggelar hajatan Festival Didong pada 4-5 November 2022 di GOR Kabupaten Bener Meriah.

Perhelatan yang mengusung tema “Berseni Kite Morom (Berseni Kita Bersatu)” memperlobakan kesenan didong tingkat SMA dengan total hadiah Rp 15 juta.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh yang diwakili Kepala Seksi Bahasa Azizar Mansyah menerangkan, festival seperti ini adalah bentuk dari komitmen Pemerintah Aceh untuk terus melestarikan budaya yang ada di setiap kabupaten/kota dengan tujuan menjadikannya sebagai media promosi pariwisata.

“Saya sangat mengapresiasi antusiasme masyarakat Bener Meriah yang tetap mengunjungi kegiatan ini dari pembukaan dan penutupan meski dalam kondisi hujan,” ujar Azizar.

Dalam festival tersebut, keluar sebagai juara perwakilan SMA N Bustanul Ullum dari Bener Meriah yang memperoleh juara pertama.

Kemudian juara kedua diraih SMA N 1 Bukit Kabupaten Bener Meriah dan juara 3 SMA N 1 Takengon dari Aceh Tengah, sementara suporter terbaik diberikan kepada SMA N 1 Bukit dari Bener Meriah.

Pengumunan itu disampaikan oleh panitia pada malam penutupan yang tergabung dalam tiga rangkaian kegiatan yang dijalankan oleh Disbudpar Aceh.

Selama dua hari pelaksanaannya, event bertajuk berseni kite morom, berjalan dengan sukses meskipun hujan kerap mengguyur kawasan setempat.

Festival tersebut menjadi salah satu lokasi untuk pembukaan dan penutupan rangkaian kegiatan diantaranya Festival Negeri Antara, Festival Didong dan Gayo Art Fest di Kabupaten Bener Meriah yang ditutup oleh Wakli Ketua DPR Aceh, Hendra Budian.

Hendra menyampaikan, ada yang mengatakan event ini tidak berguna, tapi bagi pecinta seni dan budaya, acara ini sangatlah penting.

“Bagi kami, seni budaya merupakan jalan pulang, identitas kami sebagai bagian kelompok masyarakat yang ada di Aceh.” ujarnya.

Menurutnya, kesuksesan rangkaian kegiatan event tersebut harus mampu mengangkat wisata budaya yang ada di dataran tinggi Gayo.

Selain melestarikan budaya didong kepada kaum muda, Hendra berharap budaya yang telah menjadi warisan takbenda oleh Kementerian Kebudayaan pada tahun 2015 silam tersebut mampu menjadi daya tarik wisatawan baik domestik maupun internasional.

Ia berharap, Pemerintah Aceh melalui Disbudpar agar tahun depan festival yang sama digelar dengan lebih spektakuler.