Disbudpar Lestarikan Situs Cagar Budaya untuk Memajukan Pariwisata Aceh

18
Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh melalui Bidang Sejarah dan Nilai Budaya menggelar pelatihan Juru Pelihara Situs Cagar Budaya di Aceh di Aula Hotel Hip-hop Kec. Baiturrahman, Kota Banda Aceh, Selasa, 22 November 2022.

Pelatihan yang bertajuk “Melestarikan Cagar Budaya untuk Memajukan Budaya Aceh” sebagai upaya dari Disbudpar Aceh dalam melestarikan cagar budaya di setiap kabupaten/kota yang ada di Aceh diera globalisasi dan modernisasi.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh melalui Sub Koordinator Permuseuman dan Cagar Budaya, Yudi Andika menyampaikan, pelatihan ini dilakukan agar juru pelihara cagar budaya dapat memiliki kemampuan dan penampilan yang lebih menarik dengan mengikuti perkembangan zaman di era globalisasi dan modernisasi.

Menurutnya, Aceh merupakan salah satu daerah yang kaya akan sejarah dan budaya, beragam cagar budaya terdapat di Aceh, sehingga Disbudpar mengajak seluruh stakeholder untuk terus berupaya menjaga dan merawat situs cagar budaya yang ada di Aceh.

“Peserta yang berhadir berasal dari 23 kabupaten/kota juga akan mengikuti pelatihan peningkatan kompetensi mengenai cagar budaya yang ada di museum maupun cagar budaya yang ada di situs-situs sejarah di seluruh Aceh,” ungkap Yudi.

Dengan terlaksananya kegiatan ini, sambung Yudi, cagar budaya yang ada di Aceh akan mengalami peningkatan, seperti pengelolaannya, pelestariannya dan mampu mempromosikan kepada khalayak ramai terkait dengan kekayaan cagar budaya yang ada di Aceh. seperti situs makam atau masjid yang ada di Aceh.

“Hari ini kita melaksanakan pelatihan untuk saling bertukar informasi terkait pelestarian cagar budaya dan melalui forum ini bisa melestarikan cagar budaya di setiap daerah masing-masing yang ada di Aceh,” ujar Yudi.

Terakhir, Yudi berharap kepada peserta yang mengikuti kegiatan tersebut, melalui kegiatan ini dapat menambah kemampuan dan ilmu pengetahuan terkait situs-situs cagar budaya, juga kompetensi nanti kedepannya dapat mampu bersaing dengan masyarakat lain yang ada di luar daerah Aceh.