Cahaya Aceh Dikenalkan di World Travellers Cafe Japan 2019

171

Pesona keindahan dan keragaman kuliner dari Serambi Mekkah mewarnai agenda bulanan para pejalanan di salah satu cafe di Jepang. Tepatnya di Global Links, Kota Nagoya Jepang, Selasa (23/4/2019), seorang mahasiswa asal Aceh mengenalkan The Light of Aceh ke peserta yang hadir.

Ia bernama Bilal Faranov, mahasiswa jurusan Hubungan Internasional Universitas Almuslim Aceh yang saat ini sedang melakukan student exchanges ke Nagoya Gakuin University, Jepang.

Inisiatifnya mempromosikan Aceh di negeri Sakura ini patut diajungkan jempol, pasalnya kegiatan ala milenial tersebut menjadi momen yang pas bagi mahasiswa luar negeri untuk saling mengenalkan potensi negara asalnya masing-masing.

“Kegiatan akbar ini diselenggarakan oleh International Affairs of Nagoya Gakuin University dan setiap sebulan sekali digelar,” sebut Bilal.

Tidak hanya itu, pembicara dari mahasiswa lintas negara juga menjadi speaker dalam kegiatan tersebut.

“Saya berkesempatan menjadi pembicara dari Indonesia di event itu karena merupakan salah satu dari mahasiswa asal Indonesia yang mengikuti student exchanges di kampus tersebut,” ungkapnya.

Pengunjung atau penonton yang hadir untuk melihat promosi ini, kata Bilal tidak hanya mahasiswa dari berbagai negara dan dosen, tapi juga kalangan pengusaha dan masyarakat umum yang tertarik untuk lebih mengenal sebuah daerah atau negara.

“Saya sudah berkoordinasi dengan panitia acara sejak seminggu sebelumnya agar bisa mencarikan makanan dan cemilan khas Indonesia, terutama khas Aceh agar dapat dinikmati oleh seluruh penonton yang hadir,” kata mahasiswa kampus Almuslim Matangglumpangdua ini.

Sekitar 300 pengunjung hadir, mereka pun mencicipi ikut pisang sale dan cemilan gring khas Aceh.

“Tidak lupa juga kopi Arabica Gayo yang saya bawa langsung dari Aceh saya kenalkan untuk mereka cicipi,” sebut Bilal.

Menariknya lagi, saat presentasi Bilal juga mengenakan baju batik motif Pinto Aceh, diluar dugaan banyak pengunjung tertarik dengan motif baju tersebut.

“Saat diskusi berlangsung, malah ada beberapa penonton ingin memesan baju batik tersebut untuk dikenakan, kata mereka sangat artistik,” ungkap Bilal sumbringah.

Dalam presentasinya, Bilal ikut mengenalkan budaya Aceh mulai dari masakannya hingga dengan kesenian yang ada. “Yang membuat mereka takjub juga tak lain saat menyaksikan TVC The Light of Aceh yang sengaja saya putarkan membuat penonton banyak terkesima dengan keindahan Aceh dan Indonesia,” tuturnya.

Terima kasih Bilal telah ikut menjadi bagian dari duta wisata untuk mempromosikan Aceh di luar negeri.