World’s Best Halal Cultural Destination: Peluang dan Tantangan

298

Menjadi sebuah kebanggaan tersendiri bagi masyarakat dan Pemerintah Aceh saat provinsi berjulukan “Serambi Mekah” berhasil sebagai salah satu pemenang untuk tiga kategori dalam Kompetisi Pariwisata Halal Nasional 2016 yang diselenggarakan oleh Kementerian Pariwisata Republik Indonesia (RI), yaitu “Aceh sebagai Destinasi Budaya Ramah Wisatawan Muslim Terbaik 2016”, “Bandara SIM sebagai Bandara Ramah Wisatawan Muslim Terbaik 2016” dan “Masjid Raya Baiturrahman sebagai Daya Tarik Wisata Terbaik 2016” pada tanggal 21 September 2016.

Puncak kebanggaan tersebut dapat dirasakan saat penyerahan anugerah awards kepada pemenang, khususnya Pemerintah Aceh, diwakili oleh Asisten Keistimewaan Aceh, Pembangunan dan Ekonomi, Bapak Zulkifli Hasan oleh Menteri Pariwisata RI, Bapak Arief Yahya pada Malam Penganugerahan Kompetisi Pariwisata Nasional 2016 dengan tagline “Yang Halal Menjadi Pesona” pada tanggal 7 Oktober 2016 di Balairung Soesilo Soedarman Gedung Sapta Pesona Kementerian Pariwisata RI.

Pada malam anugerah tersebut, Aceh telah membuktikan dirinya sebagai sebuah provinsi yang baru bangkit dari industri pariwisatanya pasca konflik yang sangat melelahkan dan Tsunami yang sangat menghancurkan yang mampu bersaing dan berdiri sejajar dengan provinsi-provinsi lainnya yang lebih dahulu maju di sektor industri pariwisata.

Perlu menjadi sebuah catatan khusus bagi Aceh pasca pemungutan suara (voting) secara online menggunakan Survey Monkey, Aceh tidak hanya berada di peringkat pertama untuk tiga kategori tersebut dengan total 115.462 suara nasional (e-vote), tapi perolehan hasil voting untuk Aceh relatif tinggi dibandingkan dengan beberapa provinsi lainnya.

Untuk kategori Destinasi Budaya Ramah Wisatawan Muslim Terbaik 2016, Aceh berada di peringkat pertama dengan hasil voting 52.83%, disusul Lombok di peringkat kedua 32.35% dan Yogyakarta di peringkat ketiga 14.83%.
Kategori Bandara Ramah Wisatawan Muslim Terbaik 2016, Bandara Internasional Sultan Iskandar Muda berada di peringkat pertama 40.94%, disusul Bandara Internasional Lombok (Praya, Nusa Tenggara Barat) di peringkat kedua 29.68% dan Bandara Internasional Minangkabau (Padang, Sumatera Barat) di peringkat ketiga 29.38%.

Khusus Kategori Daya Tarik Wisata Terbaik 2016, Aceh berhasil berada di peringkat pertama dan ketiga. Peringkat pertama Masjid Raya Baiturrahman (Banda Aceh) 36.38% dan peringkat ketiga untuk Museum Tsunami (Aceh) 6.98%. Sementara, untuk peringkat kedua berhasil diduduki Gunung Rinjani (Nusa Tenggara Barat) 19.72%.

Data tersebut dapat disimpulkan bahwa pariwisata Aceh memiliki keunggulan, keunikan dan differensiasi tersendiri, yang tidak hanya dikenal secara luas, tapi juga tidak kalah indah dan uniknya dengan daerah-daerah lainnya.

Dengan demikian, diperlukan kemauan dan kerja keras semua pihak untuk selalu membangun pencitraan positif tentang Aceh sebagai destinasi wisata yang selalu aman, nyaman dan menarik.

vote_aceh_indonesia-whta_3

Semangat Sukarela

Keberhasilan Aceh ini tentu saja tidak terlepas dari dukungan semua pihak, khususnya masyarakat Aceh dan masyarakat di luar Aceh umumnya yang secara sukarela telah berkenan melakukan voting dan ajakan voting secara online serta publikasi secara masif melalui berbagai media, khususnya media sosial.

Sebuah pengalaman sangat mengharukan saat penulis juga terlibat halal tourism volunteer bersama para alumni Duta Wisata Aceh yang tergabung dalam SAIN (Syarikat Agam Inong Nanggroe) melakukan ajakan voting secara online di berbagai tempat, khususnya di sekolah-sekolah, seperti SMA, SMK, kampus dan tempat-tempat keramaian lainnya, seperti Museum Tsunami Aceh, Lapangan Blang Padang serta café-café dengan menghibur pengunjung melalui penampilan grup band lokal “The Praak Band dan Joel Keudah”.

Bapak dan Ibu Guru, civitas akademika dan siswa-siswi serta unsur TNI-Polri, khususnya jajaran Polresta Banda Aceh yang dipimpin langsung oleh Kapolresta Banda Aceh, Bapak Kombes Pol T. Saladin dan jajaran TNI yang dipimpin oleh Kapendam IM, Bapak Kol. Machfud secara sukarela melakukan voting dan ajakan voting secara online sebagai bentuk rasa cinta dan memiliki Aceh. Aktifitas serupa lainnya juga dilakukan oleh PNS Pemerintah Aceh dan Kabupaten/Kota serta komunitas Aceh di daerah dengan menghibur pengunjung.

Seluruh upaya yang diinisiasi oleh semua sukarelawan tidaklah sia-sia dan dilakukan secara ikhlas untuk satu tujuan mulia, yaitu kemenangan Aceh dalam kompetisi pariwisata halal nasional, sekaligus mendukung Aceh sebagai salah satu nominator mewakili Indonesia sebagai “Destinasi Budaya Ramah Wisatawan Muslim Terbaik Dunia” atau “World’s Best Halal Cultural Destination” pada World Halal Tourism Awards (WHTA) 2016 di Abu Dhabi (UEA), yang votingnya akan dimulai secara online tanggal 24 Oktober – 25 November 2016.

Semangat Rahmatan lil ‘alamin

Walau berjulukan Serambi Mekah dan Destinasi Budaya Ramah Wisatawan Muslim Terbaik 2016, Aceh perlu terus melakukan pembenahan dan sertifikasi pada berbagai aspek pelayanan sebagai konsekuensi tuntutan masyarakat global yang mengacu kepada Muslim Global Travel Index (MGTI) 2016 dalam rangka menjamin kenyamanan dan keamanan kepada wisatawan, khususnya wisatawan Muslim saat berwisata di Aceh, sambil beribadah dan menikmati segala keindahan alam dan budaya sebagai manifestasi rasa syukur atas segala ciptaanNya melalui pelayanan maksimal berbasis bersyariah.

Untuk membangun pencitraan positif tentang Aceh dan meningkatkan kunjungan wisatawan melalui semangat wisata halal, perlu dilakukan berbagai kegiatan promosi bersifat masif dan targeted, sekaligus memperkenalkan branding baru Aceh dengan taglinenya “The Light of Aceh” atau “Cahaya Aceh” yang merefleksikan spirit bagi seluruh masyarakat yang disatukan melalui Syariat Islam yang Rahmatan lil ‘alamiin sebagai cahaya benderang yang mengajak pada nilai-nilai kebaikan, kemajuan dan kemakmuran.

Melalui semangat “Rahmatan lil ‘alamiin” sebagai filosofi utama pengembangan pariwisata halal Indonesia, masyarakat Aceh yang mayoritas Islam diharapkan dapat menjadi masyarakat yang benar-benar Islami, bukan masyarakat Islam yang eksklusif yang jauh dari perilaku shiddiq, amanah, tabligh dan fathanah dalam melayani setiap wisatawan yang datang ke Aceh. Perlu menjadi perhatian bahwa wisata berbasis halal dibangun dengan segala cara yang halal dan bukanlah dengan menghalalkan segala cara.

Semoga kemenangan yang direncanakan dalam kompetisi wisata halal nasional dan internasional nantinya tidak hanya menjadi sebuah jargon belaka, namun secara jangka panjang mampu memberikan syafa’at dan kemakmuran bagi siapapun, khususnya saudara-saudara kita yang berpeluh yang selama ini menjual jagung bakar, ikan bakar, roti bakar dan pisang bakar di banyak destinasi wisata di Aceh menuju kehidupan yang lebih berkualitas dan halal tentunya. Insya Allah.

Penulis Rahmadhani, M.Bus (Kabid Pemasaran Disbudpar Aceh) dan Nurlaila Hamjah, MM (Kasi Informasi Disbudpar Aceh)