Suka dengan Rapa’i, M Nasir: Jadi Syeh hingga Membuat Rapa’i Sendiri

34

Suara tabuhannya bisa terdengar jarak kilometer, walau tanpa pengeras suara. Alat ini mampu menghadirkan ritme unik dari setiap pukulan tangan yang serentak dengan bunyi dan irama khas, rapa’i begitulah sebutan alat musik tradisional Aceh ini.

Namanya adalah M Nasir Harun, pria yang begitu gemar dengan alat musik tabuh ini sudah menggemari sejak masa muda.

“Dulunya saya sangat suka main rapa’i sejak masih muda. Saya sangat suka dengan alat musik tersebut, selain suarannya, kekompakan suara dan keunikan gaya permainannya juga begitu menarik jika dimainkan secara berkelompok,” ujar Nasir yang kini telah berusia kepala lima.

M Nasir Harun (kanan)

Pria asal Cot Rabo, Peusangan tersebut di usia yang tidak muda lagi terus menggeluti alat musik tradisional Aceh ini hingga berkiprah menjadi salah satu perajin sekaligus pembuat rapa’i di wilayah Bireuen.

Setelah menikah, Nasir tidak lagi menetap di desanya Cot Rabo, ia hijrah dan menetap di desa Pante Pisang yang sama-sama masih berada di satu kecamatan. Dikediaman baru inilah, ia mulai membangun dan merintis secara pelan-pelan usaha membuat rapa’i sejak tahun 2010.

“Usaha membuat rapa’i saya rintis sejak 2010 silam. Industri rumahan ini saya beri nama Super Tehnik,” pungkasnya.

Menurut Nurdin, alat musik tradisional Aceh seperti rapa’i tidak hanya dikenal di Tanah Rencong. Banyak para seniman telah membawakan tabuhan rapa’i ini ke tingkat nasional bahkan mancanegara untuk dipentaskan sekaligus mengenalkan kesenian Aceh.

“Rapa’i sendiri sudah menjadi permainan turun temurun di Aceh, tidak hanya laki-laki saja, kaum hawa juga bisa memainkan alat musik yang terbuat dari bahan kayu dan kulit tersebut,” ujar Nasir yang pernah ikut berpartisipasi di event Aceh International Percussion 2019 lalu.

Selain membuat rapa’i, industri rumahan Nasir juga memproduksi alat musik lainnya seperti seurune kalee dan geundrang serta cobek atau capah dalam bahasa Aceh sebagai salah satu peralatan dapur untuk mengulek bumbu masak.

Kecintaan dan Semangat Merawat Rapa’i

Masa muda Nurdin memang sudah familiar dengan rapa’i. Hingga telah berkeluarga, diri sering diminta untuk menjadi syeh atau pelantun syair saat bermain rapa’i.

“Setelah nikah, saya sering diminta untuk menjadi syeh saat ada acara-acara atau hajatan,” sebut Nurdin yang kini mempunyai akun Instagram @rapaiaceh_ sebagai toko daringnya.

View this post on Instagram

A post shared by SUPER TEHNIK (@rapaiaceh_) on

Kecintaan terhadap alat musik tradisional ini pun berlanjut, ia mulai belajar cara membuat rapa’i dan alat musik tradisional lainnya. Hasilnya pun terlihat sekarang walau kerap terkendala modal, ia berhasil membuktikan bisa membuat rapa’i dengan kualitas bagus.

“Membuat rapa’i terbilang tidak mudah, waktu awal-awal saya terkendala dengan modal. Karena modal yang saya miliki masih pas-pasan dengan peralatan pun sangat sederhana dan tradisional. Tapi saya tetap semangat untuk menghasilkan alat musik tersebut dengan sempurna,” kisahnya.

 

View this post on Instagram

 

A post shared by SUPER TEHNIK (@rapaiaceh_) on

Kini, kata Nurdin, saat membuat alat musik rapa’i juga masih mengandalkan peralatan seadanya.

“Semangat saya membuat alat musik kebanggaan masyarakat Aceh ini tidak akan pernah pudar. Memang benar alat-alat yang saya miliki sekarang masih seadanya. Semoga saja rapa’i masih menjadi andalan alat musik bagi generasi muda Aceh,” harapnya.