Sabang, Pesona Pariwisata Aceh yang Tak Pernah Lekang

Sabang selalu menyenangkan untuk dikunjungi kapan pun dan berapa kali pun kita sudah mengunjunginya. Ada rasa gembira yang meluap-luap ketika melakukan perjalanan untuk mencapai pulau paling barat negeri ini. Entah itu dengan menyeberangi lautan dari Banda Aceh ke Balohan atau melintasi udara dari Kuala Namo-Medan ke Maimun Saleh-Sabang.

Sudah kali keenam aku kembali ke pulau berbentuk huruf W ini. Bukan jumlah yang banyak tapi kayaknya juga tidak terlalu sedikit untuk bisa mengenal Sabang dari berbagai sisi. Pun demikian pada setiap kedatanganku, ada saja tempat baru dan pengalaman seru yang didapat di Sabang. Boleh saja aku familiar dengan rute ke destinasi populer di pesisirnya. Boleh juga hafal suasana pantai dan sengatan bayi ubur-ubur saat snorkeling. Tapi kejutan-kejutan tak terduga setiap kali berkeliling di Pulau Weh inilah yang selalu membuatku rindu.

Entah pada kunjungan yang ke berapa, aku tiba di Sabang pada siang hari. Sepeda motorku melaju perlahan meninggalkan Balohan yang ramai dan meraung mendaki Tanjakan Semen. Terus mengikuti jalan menurun melewati Kota Atas yang sejuk dan berkelok menuju Kota Bawah yang agak panas dan lengang.

Siang hari adalah waktunya warga Sabang menutup toko-toko mereka dan bersantai di rumah. Seperti Kota Atas, Kota Bawah pun terlihat sepi. Bahkan tak ada kesibukan berarti di pasar tradisionalnya. Dok kapal yang tak jauh dari sana juga bebas dari aktivitas. Aku mendapati seorang bapak yang sedang beristirahat menikmati kopi sambil memandangi kapal yang sedang docking di hadapannya. Demi menghilangkan rasa pusing setelah turun dari kapal, aku ikut duduk bersama beliau dan mendengarnya bercerita tentang pekerjaannya.

Penulis Citrah Rahman (Pemenang III Sabang Marine Blogging Competition). Selengkapnya https://hananan.com

You might also like More from author

Leave a comment