Renggali Juarai Lomba Musik Etnik Garapan di Festival Musik 2019

134

Kegiatan Festival Musik 2019 yang diselenggarakan oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Aceh melalui UPTD Taman Seni dan Budaya Banda Aceh, Selasa (19/11/2019).

Acara yang dilaksanakan selama 2 hari yakni 18-19 November berlangsung dengan sangat meriah mampu menyedot perhatian dari banyak penonton baik dari kalangan milenial hingga para pelakuseni.

Acara ini diikuti oleh 12 grup musik yang berasal dari berbagai daerah di Aceh. Para peserta sangat antusias menunjukkan performa terbaik yang telah digarap, berbagai kolaborasi alat musiktradisional dan modern ditampilkan pada acara ini.

Perlombaan yang memperebutkan total hadiah sebesar 28 juta rupiah ini di juarai oleh Grup musik Renggali yang berasal dari Aceh Tengah berhasil meraih juara 1, pada penampilan nya grup tersebut berhasil memukau dewan juri serta penonton dengan mengkombinasikanalat musik serta syair gayo dengan musik modern.

Juara 2 diraih oleh grup Mozaik, diikuti dengan juara 3 berhasil dibawa pulang oleh grup Tuha Lapan, sementara itu juara harapan didapatkan oleh grup Hoka Etnika.

Serta turut diberikan juga penghargaan untuk komposer terbaik kepada Heryan Pratama yang merupakan komposer musik grup Renggali.

Kepala UPTD Taman Seni dan Budaya, Elly Zuarni dalam sambutannya menyampaikan, bahwa kegiatan ini bertujuan untuk memberikan ruang berkreasi bagi para seniman.

“Melalui Festival musik ini, kita ingin memberi ruang berkreasi kepada teman-teman di dunia seni khususnya seni musik. Kreativitas tersebut akan tumbuh dengan baik apabila ruang-ruang tersebut kita ciptakan dengan memberikan ruang seluas-luasnya. Ruang tersebut akan dapat terisi dengan baik karena kita percaya bahwa kemampuan seniman aceh itu sangat hebat-hebat,” kata Elly.

Elly juga berharap agar kedepannya musik etnik garapan ini dapat menjadi daya tarik wisata serta dimanfaatkan menjadi sebuah industri kreatif yang maju di Aceh.

Keunikan yang dimiliki oleh musik etnik di Aceh, kata Elly harus bisa dimanfaatkan menjadi sebuah peluang. Potensi yang harusnya bisa lebih ditingkatkan dalam usaha memajukan pariwisata dan kebudayaan Aceh.

“Kita memiliki alat serta aransemen musik yang khas dengan unsur melayu maupun arab. Keunikan tersebut harusnya menjadi sebuah industri kreatif yang dapat mendatangkan penambahan nilai ekonomi bagi pelaku seni itu sendiri,” ujarnya.