Rakornas Pariwisata Angkat Tema Wonderful Indonesia Digital Tourism 4.0

146

Kementerian Pariwisata (Kemenpar) satukan tekad mencapai target 20 juta wisatawan mancanagera (wisman) 2019. Sinergi itu dilakukan lewat Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Pariwisata I Tahun 2019 yang digelar di Hotel Sultan, Jakarta, 28 Februari – 1 Maret 2019.

Rakornas yang dibalut sangat digital ini pembukaannya dilakukan dengan teknologi suara yang sangat digital.

Tema besar yang diangkat dalam Rakornas yakni Wonderful Indonesia Digital Tourism (WIDT) 4.0 ‘Transforming Tourism Human Resources to Win The Global Competition in The Industry 4.0 Era’. Rakornas ini untuk penguatan sumber daya manusia (SDM) pariwisata agar dapat memenangkan kompetisi global di era industri 4.0.

Rakornas dibuka secara resmi sekaligus sebagai pembicara kunci oleh Menteri Pariwisata (Menpar) Arief Yahya. Acara ini menghadirkan sejumlah narasumber antara lain Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto, Senior Manager Deloitte Samrat Bosye, Rektor Universitas Bina Nusantara Harjanto Prabowo, Head of ICT Center of Education Kemendikbud Gogot Suharwoto, serta sejumlah CEO perusahaan digital antara lain Bukalapak.com dan Traveloka.com.

Rakornas diikuti 500 peserta dari berbagai kalangan. Seperti akademisi, industri pariwisata, pemerintah, komunitas, dan media atau sebagai kekuatan Pentahelix pariwisata.

Suasana rakornas pun diset dengan nuansa digital. Terdapat stand-stand digital di era industri 4.0. Seperti game virtual, adventure virtual dan sejenisnya. Sebagai pembuka Rakornas, tampil di atas panggung artis penyanyi Lala Karmela membawakan lagu Khatulistiwa milik Chrisye.

Menpar Arief Yahya menegaskan program Go Digital menjadi salah satu program strategis Kemenpar dalam upaya menenangkan pasar di era industri 4.0. Menurutnya, teknologi digital memiliki peran yang sangat penting dalam pengembangan industri pariwisata.

“Suka atau tidak suka, sudah terjadi perubahan perilaku pasar. Semua telah bergeser ke arah digital. Saat ini industri dunia telah bergeser ke arah industri digital era 4.0. Perannya mencapai 70%,” kata Menpar Arief Yahya, Rabu (28/2/2018).

Perubahaan perilaku pasar, kata Menpar Arief Yahya, diikuti pula dengan berubahnya perilakukan konsumen (customer behavior). Konsumen kini semakin mobile, personal, dan interaktif. Dan ini menjadi sifat dari digital yakni ‘semakin digital, semakin personal (The more digital, the more personal).

“Dalam industri pariwisata perubahan customer behavior itu terlihat ketika search and share 70% sudah melalui digital. Industri travel agent sudah tidak lagi bisa mengandalkan walk in service untuk reservasi tiket dan memilih paket wisata. Semua sudah berubah dengan digital,” kata Menpar Arief Yahya.

Menpar pun mengingatkan kembali tagline ‘The more digital, the more personal. The more digital, the more professional. The more digital, the more global’. Dijelaskannya, perubahaan perilaku konsumen yang mempengaruhi pasar tersebut digerakan oleh kaum milenial.

Hal ini sejalan dengan semangat Presiden Joko widodo (Jokowi) yang menyebutkan bahwa kaum milenial adalah masa depan Indonesia. Milenial cenderung selalu berperilaku dengan basis digital, mobile, interaktif yang kini jumlahnya mencapai 50% dari jumlah wisman inbound ke Indonesia.

“Maka siapapun yang menguasai komunitas anak muda, dialah yang berpotensi memenangkan pasar masa depan atau winning the future market,” tambah Menpar Arief Yahya.

Pada kesempatan itu Menpar mengingatkan kembali arahan Presiden Jokowi agar seluruh jajaran kabinet harus meningkatkan kapasitas pada masing-masing sektor ke arah digital. Terlebih SDM-nya sehingga dapat beradaptasi menghadapi era revolusi industri 4.0.

“Ingat, digital itu bukan kebutuhan tetapi keniscayaan,” sebut Menpar Arief Yahya.

Teknologi digital, menurutnya juga sangat identik dengan kaum millenial. Karenanya, Kementerian Pariwisata saat ini banyak membuat program-program yang menyasar segmen tersebut.

“Millenial itu sangat memengaruhi bisnis kita, termasuk untuk sektor pariwisata. Mereka adalah customer masa kini dan masa depan yang harus dilayani dengan baik. Di Kementerian Pariwisata, kami juga membuat banyak program dan iklan yang ditujukan untuk kaum millenial,” pungkasnya.