BANDA ACEH – Pemerintah Aceh memilih “Poemeurah Meuseudati” sebagai maskot Pekan Kebudayaan Aceh (PKA) VII yang berlangsung pada 5-15 Agustus 2018 mendatang.

Maskot ini dinilai cukup representatif untuk mengangkat nilai-nilai budaya dan adat istiadat Aceh. Hal ini bisa dilihat pada kepala maskot yang berupa simbol gajah putih yang mengenakan kupiah meukutop serta songket Aceh di pinggangnya.

Pelaksana tugas (Plt) Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh, Amiruddin, menjelaskan, nama Poemeurah Meuseudati merupakan gabungan dari kata poemeurah yang bermakna gajah, dan seudati yang tak lain merupakan nama tarian tradisional Aceh.

“Pomeurah Meuseudati menggambarkan gajah putih sedang memperagakan gerakan tarian seudati dengan ceria,” katanya.

Gajah putih dipilih sebagai maskot karena satwa ini pernah menjadi bagian penting dalam sejarah kerajaan Aceh. Gajah putih tak hanya populer bagi masyarakat Aceh pesisir, tapi juga bagi masyarakat Gayo yang mendiami dataran tinggi Aceh.

Konon, keturunan Raja Linge (Gayo) memberikan hadiah gajah putih kepada Sultan Kerajaan Aceh Darussalam. Gajah putih dinilai sebagai hewan istimewa. Ia menjadi tunggangan kebanggaan para raja dalam bepergian dan peperangan.

Cerita rakyat tentang gajah putih pun sudah melegenda di tanah Aceh, sehingga menginspirasi beberapa instansi untuk menggunakan gajah putih sebagai simbol. Misalnya Makodam Iskandar Muda di Banda Aceh PT Pupuk Iskandar Muda di Aceh Utara.

“Kehadiran Pomeurah Seudati pada PKA VII membawa pesan khusus. Ia mengajak masyarakat dan generasi muda Aceh untuk menjaga dan melestarikan alam Aceh, terutama mencegah konflik dengan satwa. Sementara itu, rancangan maskot dalam bentuk karakter komik atau kartun bertujuan mengajak anak-anak Aceh mencintai dan meneruskan nilai-nilai budaya Aceh,” kata Amiruddin.

Maskot ini merupakan karya desainer grafis Jalaluddin Ismail yang memenangkan lomba desain maskot yang dibuat Disbudpar Aceh pada 2017. Karyanya mampu menyisihkan 73 karya peserta lain yang berasal dari Aceh dan luar Aceh.