Museum Tsunami dan Komunitas Aceh-Jepang Peringati 8 Tahun Tsunami Jepang

63

Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh melalui Museum Tsunami Aceh kembali menggelar peringatan bencana gempa dan tsunami 11 Maret yang terjadi di Sendai, Jepang.

Koordinator Museum Tsunami Hafnidar menyebutkan, peringatan delapan tahun tsunami ini dilaksanakan oleh museum bersama komunitas Aceh-Jepang yang setiap tahun rutin diperingati.

“Alhamdulillah dan penuh syukur, kita bersama komunitas kembali dapat menggelar peringatan tsunami sebagai bentuk belajar dari pengalaman untuk dapat mengurangi dampak resiko bencana,” sebut Hafni saat memberikan laporan kegiatan, Senin (11/3/2019).

Museum Tsunami Aceh, kata Hafni bukan sebatas museum sejarah alam dan juga museum umum pada umumnya, namun sebagai tempat khusus memorial museum yang bermanfaat bagi preservasi, riset, dan komunikasi untuk edukasi bencana.

“Museum Tsunami selalu terbuka untuk aktivitas anak muda termasuk peringatan hari ini, dan kita akan selalu mengedepankan kerja sama dalam hal pembelajaran dimana pun bencana itu terjadi karena semua orang berhak mendapatkatn edukasi untuk kesiapsiagaan bencana,” jelas Hafni.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh Jamaluddin yang juga hadir dalam peringatan tsunami Jepang ini juga memberikan apresiasi atas berhasilnya diselenggarakan acara peringatan tsunami tersebut di Aceh.

“Aceh dan Jepang memilik memori yang sama terhadap bencana tsunami. Adanya kegiatan peringatan ini menjadi bagian dari saling mengingat dan berbagi pengalaman bencana dan pascabencana sebagai bentuk pesahabatan dua negara,” ujar Jamal dihadapan undangan yang hadir termasuk Konsulat Jenderal Jepang di Medan Mr. Takeshi Ishi.

Jamaluddin juga mengucapkan terima kasih atas komunitas-komunitas Aceh dan Jepang yang telah membangun dan membina hubungan baik dengan sesama.

“Saya mewakili masyarakat Aceh, berharap dan berdoa agar masyarakat Jepang terus kuat dan kita dapat belajar bersama tanpa batas waktu untuk terus siaga bencana,” harap Jamal.