Menikmati “Cahaya” di Ujung Barat Indonesia

250

Pertanyaan ini terutama ditujukan kepada masyarakat luar yang belum pernah ke “Tanah Rencong” atau mengeksplorasi makanannya, sudah pernahkah lidah anda merasakan kelezatan mi aceh? atau, men­cecap rasa kopi gayo walaupun anda bukan seorang penikmat kopi?

Bila belum pernah, cobalah. Selanjutnya, luangkanlah waktu liburan anda untuk sesekali berkunjung ke Aceh dan mencicipi rasa kedua kuliner khas itu di tanah kelahirannya. Meski mungkin akan muncul subjektivitas yang tipis, namun lidah kita akan merasakan sensasi kelezatan yang berbeda.

Berbeda dengan kebanyakan di luar Aceh, seperti di Me­dan, mi aceh di daerah asalnya terasa lebih kuat bum­bunya. Di sini, mi aceh terasa lebih gurih, pedas, dan berkuah kental kalau kita memesan yang berkuah. Lebih nendang kelezatannya. Kemenonjolan rasa ini karena para penjualnya meracik sendiri bumbunya, bukan beli jadi. Tak jarang pula muncul variasi dalam sajiannya, dilengkapi banyak potongan daging sapi, udang, atau kepiting. Sensasi kenikmatan berbeda juga akan kita rasakan saat menyeruput secangkir kopi gayo hangat yang dihidangkan di berbagai tempat di daerah ini. Baik di warung-warung kopi perdesaan maupun tempat nongkrong yang sudah terkenal di perkotaan di Aceh, contohnya Rex Banda Aceh atau Kota Langsa.

Bagi Aceh, kedua jenis masakan ini sebenarnya sudah menjelma menjadi ikon wisata kuliner. Walaupun masih banyak jenis masakan lain yang tak kalah populer dan lezat, seperti kari, sate matang (dikenal berasal dari wilayah Matangglumpang, Bireuen), kuah pliek, atau pisang sale.

Jangan ragukan kehalalannya. Makanan dan minuman yang disajikan pedagang di provinsi ini pasti terjamin dari sisi ini. Apalagi, Aceh menerapkan syariat Islam. Juga dikenal sebagai daerah “Serambi Mekkah”. Sehing­ga, soal kehalalan makanan dan minuman, sangat terjaga.

Tuntutan Standardisasi

Tapi, sekarang, hal itu terasa belum cukup. Kini Aceh mende­kla­rasi­kan diri sebagai destinasi unggulan wisata halal di Indonesia. Dalam rapat koordinasi yang membahas Aceh sebagai daerah unggulan wisata halal di Indonesia yang dibuka Gubernur Zaini Abdullah, Senin (19/9), deklarasi yang diikuti bupati/walikota se-Aceh itu dikumandangkan. Menteri Pariwisata, Arief Yahya, turut hadir. Deklarasi diiringi dengan memper­kenalkan semboyan (tagline) baru daerah ini The Light of Aceh, Cahaya Aceh.

Untuk bisa menggaet dan meyakinkan wisatawan, terutama muslim, dibutuhkan sertifikasi halal atas ma­kanan yang dijual di Aceh. Menteri Arief Yahya menya­takan, secara psikologis, sebagai muslim pasti merasa tidak memerlukan sertifikasi halal tersebut. Namun, sertifikasi itu adalah standar pariwisata halal dunia. Sertifikasi sama juga dibutuhkan restoran dan penginapan semisal hotel dan sejenisnya.

Bagi turis muslim, baik lokal maupun asing, tuntutan atas kehalalan di berbagai aspek merupakan hal mutlak. Makanan dan penginapan yang halal memberikan kete­nangan. Ini sejalan dengan antara lain tujuan berwisata, memberikan asupan positif bagi jiwa. Makanan yang diragukan kehalalannya tentu merisaukan.

Selain makanan dan penginapan, kehalalan itu dalam hal ini mungkin lebih tepatnya disebut sebagai nilai-nilai islami juga harus terlihat di objek-objek wisata. Nilai-nilai ini harus bisa ditampilkan secara kuat di se­mua jenis wisata, seperti wisata alam, budaya, minat khusus, sejarah, dan terutama religi. Bila gagal mene­rapkannya, dunia pariwisata Aceh sulit maju. Cuma akan terus dikenal ala kadarnya seperti saat ini meski sangat kaya potensi.

Pencitraan ulang (rebranding) semboyan pariwisata setempat menjadi Cahaya Aceh menuntut pemenuhan kebutuhan itu. Kemampuan menjamin aspek ini, apalagi bila sertifikasinya dilakukan lembaga yang diakui secara nasional dan internasional, akan kian memperkuat imaji Aceh sebagai daerah religius.

Tidak diragukan lagi. Religiusitas itu tetap menyala sampai sekarang. Misalnya, semua toko, termasuk penjual makanan, akan tutup selama rentang waktu salat Jumat. Baru beroperasi kembali setelah salat selesai. Nelayan juga libur melaut pada hari yang sama. Kearifan berbasis nilai keislaman ini terus dijaga, di antaranya, melalui hukum adat.

Di sisi lain, pemerintah kabupaten/kota di provinsi ini juga aktif menggerakkan program keagamaan. Wakil Walikota Langsa, Marzuki Hamid, dalam beberapa kesempatan menyampaikan kepada Analisa, Pemko setempat melancarkan program seperti Safari Subuh. “Lewat program ini, kita ingin masyarakat Langsa makin memahami dan membumikan agama Islam dalam kehidupannya,” ungkap kandidat doktor ini.

Langkah dan kebijakan islami juga banyak dilakukan daerah lain. Banda Aceh memosisikan diri sebagai model “kota madani”. Ibukota provinsi ini bercita-cita menerapkan segenap aspek kehidupan bernafaskan Islam seperti yang dibangun oleh Nabi Muhammad SAW di Madinah.

Memuaskan Rasa

Kita meyakini, filosofi The Light of Aceh tak terlepas dari kuatnya religiusitas masyarakat Aceh tersebut. Masyarakat yang ingin hidup secara komprehensif dan total (kaffah) dalam Islam dari segala sisi. Demikian juga dengan sektor pariwisatanya. Dalam destinasi wisata halal, “Cahaya Aceh” bukan hanya tergambar dari eloknya berbagai objek wisata yang ada, tetapi juga terutama sinar pesona dari atraksi budaya dan tradisi serta nilai-nilai religiusitas yang bisa dikecap jiwa turis: keramahan, kerendah-hatian, terbuka, dan inklusif. Namun, tetap teguh dalam keyakinan selayaknya “Serambi Mekkah”.

Dalam satu kesempatan safari subuh, Marzuki Hamid mengajak umat muslim untuk memadati masjid-masjid, terutama salat Subuh. Kepada jemaah diceritakannya, selain sebagai implementasi atas ajaran Islam, nuansa spiritual nan ramai namun syahdu dan menggetarkan jiwa tersebut pasti akan mempesona. Pasti akan bisa menarik turis baik domestik maupun berbagai negara untuk datang.

“Kalau ini mampu kita wujudkan, insya Allah, masyarakat asing akan datang. Itu berarti juga akan menumbuhkan perekonomian daerah kita,” katanya.

Gambaran yang disampaikan oleh Wakil Walikota Langsa itu sebagai impian sekaligus nilai-nilai dan khazanah The Light of Aceh yang ditawarkan adalah ibarat sepiring mi aceh atau segelas kopi gayo. Kelezatan kedua kuliner tersebut mampu menimbulkan keinginan untuk menikmatinya berulang-ulang. Nuansa religius dan cita rasa kuliner menyentuh sisi yang sama: kepuasan. Terpuaskannya dahaga jiwa, terpuaskannya dahaga lidah.

Penulis: Guntur AS/Harian Analisa