Membumikan “Cahaya Aceh”

Sektor pariwisata “Serambi Mekkah” memasuki babak baru seiring dengan dideklarasikannya daerah ini sebagai des­tinasi unggulan wisata halal di Indonesia. Pencana­ngan­nya dilakukan oleh Menteri Pawisata, Arief Yahya, awal pe­kan ini, bersama bupati/walikota seprovinsi itu dalam ra­pat koordinasi kebudayaan dan pariwisata Aceh. Seiring de­ngan itu, juga diluncurkan semboyan baru citra Aceh da­lam bisnis turisme: The Light of Aceh, Cahaya Aceh.

Menteri Pariwisata mengakui, semboyan (tagline) yang di­pilih sudah cukup bagus. Semboyan itu telah mewakili Aceh sebagai satu-satunya daerah di Tanah Air yang me­nerapkan syariat Islam. Sementara, soal wisata halal, dia mengingatkan pentingnya standar pelayanan islami, seperti sertifikasi halal atas makanan, restoran, dan hotel. Dia yakin psikologis muslim sudah merasa tidak perlu sertifikasi ini. “Padahal, itu adalah standar pariwisata dunia,” ingatnya.

Rakor itu juga menghasilkan beberapa butir rekomendasi penting. Misalnya, menjadikan pemajuan pariwisata halal di Aceh sebagai tanggung jawab bersama dengan me­li­batkan semua elemen; memprioritaskan program per­cepatan pengembangan wisata halal ini dalam neningkatkan per­tumbuhan ekonomi di daerah masing-masing; dan mem­prioritaskannya melalui antara lain konektivitas, ak­sesibilitas, keramahan dan mutu atraksi, dan peningkatan kua­litas sumber daya manusia. Juga menyandingkan dan me­nyelaraskan “Cahaya Aceh” dengan program pemerintah pusat: Wonderful Indonesia.

Deklarasi Aceh sebagai destinasi unggulan wisata halal di negeri ini merupakan strategi tepat. Daerah ini meng­im­plementasikan syariat Islam. Sejak dulu masyarakatnya juga dikenal islami. Sebutan “Serambi Mekkah” memperkuat realitas tersebut. Sehingga, kita percaya bahwa kondisi fak­tual tersebut akan lebih memudahkan dalam mencapai tujuan dari deklarasi tersebut.

Akan tetapi, fakta psikologis yang disampaikan Menteri Pariwisata juga harus disikapi. Bahkan, langkah pertama yang harus dilaksanakan oleh para pemangku kepentingan dunia wisata Aceh adalah menjalankan program sertifikasi itu. Juga harus dilakukan secara proaktif. Jangan me­nung­gu, tetapi lakukan “jemput bola” di bagian-bagian kunci: makanan, penginapan, dan objek wisata.

Kita yakini, inilah cara terbaik untuk membumikan “Cahaya Aceh”. Bukan hanya demi kepentingan dunia wi­sata “Tanah Rencong”, namun dalam semua lini ke­hidupan dan dinamika. Sebab, “Cahaya Aceh” sejatinya ha­rus menunjukkan aktualitas nilai-nilai yang diyakini ma­syarakat dan denyut kehidupannya—pemerintahan, pem­ba­ngunan, dan sosial kemasyarakatan—yang bisa dilihat, di­rasakan, dan dicerap oleh orang luar Aceh atau man­canegara.

Karena itu pula, sejalan dengan rekomendasi rakor yang disebutkan di atas, pemerintah dan pemangku kepentingan wisata Aceh harus pula membumikan “Cahaya Aceh” ke seluruh daerah di provinsi ini. Jangan terpaku pada objek-objek yang sudah dikenal selama ini. Karena, ke­kayaan wisata Aceh tidak terbatas pada objek-objek ter­sebut. Atraksi budaya beragam dari berbagai etnis/su­b­etnis atau wisata alam juga terbentang luas—tidak sedikit dari objek-objek itu belum dikenal apalagi dikelola oleh pemangku kepentingan pariwisata Aceh.

Membangun dan memperkuat jejaring, terutama an­tardaerah dan pebisnis pariwisata, menjadi suatu ke­niscayaan untuk mempromosikan destinasi tersebut. Pe­libatan masyarakat lokal dalam jejaring ini sekaligus pelaku aktifnya juga merupakan kebutuhan mutlak. Dengan upaya de­mikianlah deklarasi destinasi unggulan wisata halal dalam bingkai “Light of Aceh” mencapai salah satu tujuan bersama yang diinginkan: kemajuan perekonomian di masing-masing daerah berkat kekayaan khas turisme setiap daerah. Tak berlebihan pula bila kemajuan bersama melalui wisata halal ini mampu memperkecil kesenjangan perekonomian antarwilayah di Aceh.

Kini, yang dinanti atas deklarasi tersebut adalah kerja keras. Tentu sangat menggembirakan apabila cetak biru pro­gram “Cahaya Aceh” tersebut sudah disusun. Me­wujudkannya, tidak semata-mata bergantung kepada ang­garan. Lebih penting ialah kreativitas dan inovasi. Sebab, bis­nis turisme adalah bisnis kreatif dan inovatif: bagaimana men­ciptakan daya saing atas sumber daya yang kita bangun dan miliki bisa menjadi sarana memajukan perikehidupan sosial dan kemasyarakatan. Juga meneguhkan identitas yang kita miliki!

Sumber: Harian Analisa/Foto: Wanda Haris Purnama

You might also like More from author

Leave a comment