fbpx

Makna Angka Tujuh dalam Tema Pekan Kebudayaan Aceh (PKA) VII

Road to Pekan Kebudayaan Aceh VII

0

Pemerintah Aceh memilih “Aceh Hebat dengan Adat Budaya Bersyariat” sebagai tema hajatan Pekan Kebudayaan Aceh (PKA) VII yang dihelat pada 5-15 Agustus 2018 mendatang. Tema ini dipilih untuk merepresentasikan jumlah perhelatan ajang kebudayaan terbesar di Provinsi Aceh itu.

Merujuk pada tujuh unsur yang dijabarkan Kluckohn dalam bukunya Universal Categories of Culture yaitu, religi, bahasa dan sastra, sistem pengetahuan, sistem sosial masyarakat, sistem ekonomi, peralatan dan teknologi, serta kesenian.

“Selain itu, angka tujuh mengandung banyak sempena (tuah) dalam kehidupan orang Aceh. Pengambilan tuah itu biasanya bertujuan mengembalikan semangat dari kehilangan identitas diri,” kata Ketua Panitia PKA VII yang tak lain adalah Wakil Gubernur Aceh Nova Iriansyah.

Contohnya, bila seseorang hilang semangatnya akibat suatu kasus atau kejadian buruk yang menimpanya, maka orang Aceh akan bersempena dengan hitungan satu hingga tujuh. Pengambilan tuah dilakukan sambil meminta pertolongan dari Allah agar orang yang disempenakan itu memperoleh kembali jati dirinya. Demikian pula untuk menjauhkan dari hal-hal kemalangan lainnya, orang Aceh juga menggunakan sempena dengan hitungan yang sama.

“Hajatan PKA VII ibarat sebuah sempena yang sakral untuk mengembalikan jati diri budaya orang Aceh yang hebat dengan nilai-nilai syariat. Sebuah kebudayaan yang khas sebagaimana diperankan pada abad-abad kegemilangan Aceh, namun tidak terlepas dari penyesuaian terhadap dinamika budaya masyarakat yang terus berubah seiring perkembangan zaman,” ungkapnya.

Pemilihan tema ini dinilai memiliki landasan konkret. Aceh pada masa lalu dikenal sebagai negeri yang hebat karena menjadikan hukum Islam sebagai pedoman hidup. Terbukti pada masa Sultan Iskandar Muda memimpin Kerajaan Aceh Darussalam, kehebatan Aceh kesohor sampai ke Eropa. Raja Aceh menjalin kerjasama dengan berbagai kerajaan di dunia, baik dalam bentuk perdagangan maupun stretegi perang.

Memperkenalkan kembali kebudayaan Aceh yang hebat dalam pesta budaya ini merupakan upaya pemerintah dan masyarakat Aceh untuk menjadikan warisan khazanah budaya Aceh yang multi-etnis sebagai salah satu kekuatan dan benteng dalam merespon berbagai perkembangan zaman yang begitu cepat. Kehadiran teknologi informasi dan siber yang canggih telah membuka ruang yang sangat lebar akan degradasi budaya antarbangsa.

“Fenomena ini jika tidak cepat diantisipasi mengakibatkan kita dan generasi Aceh berikutnya terbawa arus globalisasi, sehingga Aceh akan kehilangan identitas budaya yang sesungguhnya,” sebut Nova.