Kementerian Pariwisata Gelar FGD DSRA Wisata Halal di Aceh

17

Guna mendongkrak dan menyusun rencana aksi pengembangan wisata halal, Asisten Deputi (Asdep) Pengembangan Destinasi Regional I Kemenpar bersama Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh menggelar kegiatan Focus Group Discussion (FGD) Desain, Strategi, Rencana Aksi (DSRA) pariwisata halal yang berlangsung di Grand Arabia Hotel, Selasa (28/3/2018).

Kegiatan FGD dalam rangka menjaring wisatawan mancanegara ini turut dihadiri oleh sejumlah unsur pentahelix dalam rangka menyusun dan melihat sejauh mana pertumbuhan wisata halal atau family friendly tourism guna mendorong industri pariwisata Indonesia.

Asdep Pengembangan Destinasi Regional I Lokot Ahmad Enda dalam sambutannya menyebutkan, Kemenpar sendiri sangat serius dalam menggarap pasar wisatawan muslim.

“Adanya peningkatan populasi penduduk dunia mencapai angka 7 miliar jiwa dan 22,43 persen adalah populasi muslim, ini berimbas pada grafik pertumbuhan akan mengindikasikan peningkatan populasi muslim pada tahun 2030 mencapai 26,5 persen,” ungkap.

Terlebih lagi Aceh terkenal dan kental akan sejarah serta kuliner, akui Lokot ini juga jadi peluang dalam menjual wisata halal.

“DSRA ini meliputi analisis situasi mulai dari pendekatan perencanaan, profil destinasi, dan pemetaan daya tarik akak kita kumpulkan terlebih dahulu dan nantinya akan dilakukan konsinyering bersama Tim Percepatan Pengembangan Pariwisata Halal yang diketuai oleh Riyanto Sofyan,” sebut Lokot yang suka dengan kuliner Aceh ini.

Sementara itu, Plt Kadisbudpar Aceh Amiruddin juga menyampaikan apreasiasi dan terima kasih atas kunjungan dari tim percepatan pariwisata halal untuk turun langsung ke Aceh dan melakukan FGD sekaligus dengar pendapat dan melakukan langkah pemetaan.

“Aceh kaya dengan ragam wisata, kuliner Aceh memang banyak dan secara umum sudah halal, tapi kini yang menjadi pekerjaan kita salah satunya membuat kuliner tersebut memiliki sertifikasi halal karena itu yang diinginkan oleh wisman muslim,” pungkasnya.

Ada banyak hal yang harus diselesaikan dalam pengembangan pariwisata halal, tambah Amiruddin termasuk pemetaan wisata halal sehingga daya tariknya bisa menjadi nilai jual yang bisa kita promosi bersama.