Kemenpar: Seni Rapa’i Aceh Harus Mendunia

437

Kementerian Pariwisata (Kemenpar) punya harapan besar atas terselenggaranya Aceh International Rapai Festival 2018. Yaitu berharap Rapa’i bisa mendunia, layaknya tari saman atau tari ratoh jaroe yang booming selepas dipertaskan pada pembukaan Asian Games 2018.

Bagi Kemenpar, event yang baru kali pertama diselenggarakan mengusung misi utama untuk menduniakan Rapai. Hal itu disampaikan langsung oleh Tazbir yang menjadi perwakilan Kemenpar dalam pembukaan Aceh Internasional Rapai Festival 2018 di Stadion Tunas Bangsa, Kota Lhoksemauwe, Senin (5/11/2018).

“Aceh Internasional Rapai Festival 2018 ini acara penting untuk pariwisata Lhokseumawe dan khususnya Aceh. Atas nama Kemenpar selamat atas terselenggaranya yang pertama kali. Pariwisata juga jadi prioritas disini, oleh karena itu kami sangat apresiasi,” ugkap Tazbir.

“Rapai adalah aset warisan yang berpotensi mendunia. Dan kenyataannya kesenian Aceh sudah sangat mendunia. Tari Saman sudah mendunia, tari Seudati sudah mendunia, tari Ratoh Jaroe yang dipentaskan dipembukaan Asian Games juga sudah mendunia, kini saatnya Rapai,” lanjutnya.

Tazbir juga menyampaikan jika Kemenpar sangat berharap, masyarakat di Aceh bisa terus menjaga semua warisan budaya yang begitu banyak di Negeri Serambi Mekah. Jangan sampai, budaya dan kesenian yang begitu beragam di Aceh malah mati di daerah sendiri.

“Kalau sudah mendunia dan banyak dipelajari oleh masyarakat luar, jangan sampai di Aceh sendiri kebudayaan-kebudayaannya malah hilang. Ini yang sangat sangat diharapkan Kemenpar tak terjadi di Aceh,” papar Tazbir.

Tak hanya Tazbir, harapan besar agar Rapai bisa terus dilestarikan bahkan dikembangkan hingga ke mancanegara juga disampaikan Asisten Deputi Bidang Pemasaran I Regional Sumatera, Iyung Masruroh. Apalagi event Aceh Internasional Rapai Festival 2018 ini juga masuk dalam Top 100 Calender of Event (CoE) Kemenpar.

“Kami tidak mau alat musik Rapai ini hilang ditinggal zaman. Kami ingin masyarakat Aceh terus melestarikan dan malah mengembangkan lagi untuk menjadi lebih besar. Jangan sampai punah. Itu juga yang jadi dasar utama Aceh Internasional Rapa’i Festival 2018 dilaksanakan,” harapnya.

Tak hanya Kemenpar, harapan besar Aceh Internasional Rapai Festival tahun ini mampu mengangkat Rapai ke kancah internasional, juga disampaikan Walikota Lhokseumawe, Saudi Yahya. Pihaknya pun merasa bangga, Lhokseumawe dipercaya sebagai tuan rumah gelaran tersebut.

“Digelar tentu dengan maksud melindungi dan melestarikan seni budaya Aceh. Meningkatkan seni budaya Aceh. Dari event jni mampu mempromosikan budaya dan seni Aceh ke pentas internasional,” paparnya.

Aceh Internasional Rapai Festival 2018 yang berlangsung 4-7 November, memang diikuti oleh peserta dari dalam dan luar negeri. Dari dalam negeri diantaranya DKI Jakarta, Riau, dan Sumatera Barat. Adapun dari mancanegara, seperti India, Malaysia, dan Thailand.

“Ini kali pertama saya datang kesini. Melihat langsung bagaimana budaya disini. Terimakasih kepada duta Lhoeksemawe yang telah mengundang kami kesini. Di mana kami bisa melihat langsung beragam budaya dan kesenian di Aceh,” tutur Razak Razlan Nurdin, salah satu peserta asal Malaysia.

Pada acara pembukaan, dua kontestan asal Jakarta dan Malaysia menjadi dua penampil pertama di Aceh Internasional Rapai Festival 2018. Sebelum keduanya tampil, penonton yang memadati Stadion Tunas Bangsa, juga disuguhi pertunjukan Kolosal Rapa’i U-2 atau Rapai Meusyuhu.

Acara pembukaan yang berlangsung hingga larut malam itu pun semakin syahdu dengan guyuran hujan yang cukup lebat di Kota Lhokseumawe. Event yang masih berjalan hingga 7 Novemver itu, masih akan disuguhi oleh penampilan dari kontestan mancanegara asal Thailand dan juga India.