Jurnalis ASEAN Takjub dengan Kesenian dan Kultur Masyarakat Aceh

380

Perhimpunan Negara-Negara se-Asia Tenggara atau ASEAN baru saja merayakan ulang tahun ke-50. Kementerian Pariwisata bersama Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh juga ikut menyambut sejumlah jurnalis yang berkunjung ke provinsi paling ujung Sumatera ini, sejak 1-3 Mei lalu.

Kegiatan Famtrip (Familiarization trip) The Most Unforgettable Experience 2017 merupakan komitmen Menpar Arief Yahya dengan program Visit ASEAN@50 yang baru-baru ini telah disepakati dalam ASEAN Tourism Forum 2017 di Singapore awal tahun lalu terbukti.

Menpar sepakat untuk promosi bersama negara-negara ASEAN sebagai single destination.

Di Aceh sendiri kedatangan tiga jurnalis dari negara ASEAN, terdiri dari Malayluck Siphaphay dari Laos, Qura Tul Ain Bandial dari Brunei Darussalam, dan Tran Thi My Hoa dari Vietnam.

Pada hari pertama kegiatan yang mengambil tema “Sumatera Overland” ini, tiga wisatawan sekaligus jurnalis langsung diajak berkeliling ke Gampong Lampulo melihat kondisi gampong yang kini telah bangkit setelah tsunami dan juga kapal yang berada di atas rumah sebagai salah satu objek wisata, dilanjutkan ke Museum Aceh, Gunongan, dan Museum Tsunami dan melihat kesenian tari Aceh serta belajar menyeduh kopi.

Tidak hanya itu, masih di hari pertama dipandu oleh staf Bidang Destinasi Elia Elka juga mengabadikan momen di Masjid Raya Baiturrahman yang kini semakin mempercantik diri.

“Setelah berkeliling di Banda Aceh, 3 jurnalis ini bersama tim lainnya langsung bertolak ke Sabang, mereka sempat berpose di taman “I Love Sabang” sebelum sampai ke kota dan berkunjung ke benteng Jepang di Anoi Itam,” jelas Elia.

Di Sabang sendiri pada hari kedua, jurnalis ini juga diajak ke tugu nol kilometer sebagai salah satu destinasi yang tidak boleh dilewatkan jika berkunjung ke Pulau Weh.

Menurut Elia, kedatangan jurnalis dari negara ASEAN ini sangat berkesan dengan kultur masyarakat dan juga kesenian yang ada di Aceh.

“Saat melihat kesenian tari Aceh mereka senang sekali, terlebih kita juga mengajak mereka ke salah satu warkop di Banda Aceh untuk menyeduhkan kopi dan mereka begitu terkesan dengan cara penyajiannya,” tutur Elia.