Indahnya Ramadhan di Aceh, Sebuah Kisah dari Intan Farhana di New Zealand

130

Hari-hari Ramadhan akan berlalu, namun suasana bulan yang penuh kebersamaan ini masih akan terus melekang. Pengalaman seru inilah yang beberapa waktu lalu, dicerikan oleh mahasiswi asal Aceh Intan Farhana di salah satu kegiatan bertema Ramadhan di Wellington, New Zealand.

Intan secara khusus diundang menjadi pembicara di sebuah acara bertajuk “A Taste of Ramadhan” yang diadakan oleh UMI (Umat Muslim Indonesia) Wellington dan NZIA (New Zealand-Indonesia Association) di Wellington Islamic Centre (Kilbirnie Mosque), Sabtu (26/5/2019).

“Saya mendapatkan kesempatan untuk berbagi cerita tentang Ramadhan di Aceh kepada masyarakat Wellington, Selandia Baru,” ujar Intan, mahasiswa asal Peukan Bada, Aceh Besar tersebut, Ahad (2/6/2019) lalu.

Masyarakat yang hadir, kata Intan, terlihat sangat antusias saat mendengar berbagai cerita bagaimana masyarakat Aceh menjunjung nilai-nilai kebersamaan di bulan Ramadhan.

“Saya pun memperkenalkan mereka akan tradisi Meugang, Kuah Beulangong, Kanji Rumbi dan Kenduri Tamat Darus,” pungkas mahasiswi Master of Commerce (Accounting) di Victoria University of Wellington ini.

Tak hanya soal tradisi, Intan juga berbagi pengalaman bagaimana masyarakat Aceh menghidupkan malam-malam di bulan Ramadhan, yang sejogyanya kehidupan malam Ramadhan di Aceh seperti kota yang tak pernah tidur.

Usai berbagi kisah dan pengalaman Ramadhan, Intan mencoba menggali informasi dari hasil presentasinya kepada masyarakat yang hadir waktu itu, dan dari hasil ia berdiskusi ternyata banyak dari masyarakat disana tertarik dengan perkembangan Aceh dan nilai-nilai kebersamaan yang ada.

“Nilai-nilai kebersamaan yang kita miliki dalam kehidupan bermasyarakat di kampung adalah hal yang paling menarik bagi mereka. Lalu, mereka merasa sangat senang ketika melihat Aceh telah berkembang dengan begitu pesat setelah kejadian gempa dan tsunami tahun 2004,” jelas Intan.

Berbagi cerita bersama mereka warga Wellington, tambah Intan benar-benar menjadi kesan tersendiri dan ikut andil untuk mengenalkan Aceh bagi masyarakat luar terlebih soal tradisi dan suasana religi selama Ramadhan.

“Pastinya sungguh berkesan, membuat saya banyak belajar tentang makna kebersamaan terlebih saat tinggal di negeri rantau dimana komunitas Muslim merupakan minoritas,” tutup Intan.