fbpx

Disbudpar Aceh Gelar Pelatihan Seni Tari Ratouh Jaroe di Taman Budaya

Apresiasi Karya Aneuk Nanggroe

1

Dalam rangka membangkitkan kembali seni tari tradisional Aceh, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh melalui UPTD Taman Seni dan Budaya akan menyelenggarakan kegiatan “Pelatihan Seni Tari Ratouh Jaroe” yang bertempat di Gedung Tertutup Taman Seni dan Budaya Aceh pada hari Senin-Selasa (16-17/7/2018) pukul 09.00 WIB.

Plt. Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh, Amiruddin menjelaskan kegiatan ini diadakan dalam rangka melestarikan dan menumbuhkan semangat serta rasa memiliki masyarakat Aceh khususnya terhadap budaya tradisional yang juga merupakan bagian kekayaan nusantara yang harus dilestarikan.

Lebih lanjut beliau juga menyampaikan bahwa akibat derasnya arus globalisasi saat ini, tari tradisional Aceh sudah mulai bergeser nilai-nilai tradisinya disebabkan munculnya ide-ide kreasi dari para teman-teman yang berkecimpung dalam kesenian Aceh dalam merubah gerakan-gerakan tarian tradisional menjadi tarian kreasi, memodifikasi pakaian tari menjadi pakaian yang lebih modern dengan menambahkan hiasan-hiasan dan riasan rambut yang tidak sesuai lagi dengan unsur tradisi dari tarian itu sendiri.

“Kami sangat menghargai kreatifitas teman-teman seni tersebut tapi hendaknya kreatifitas tersebut tidak mengurangi nilai-nilai tradisi yang sudah diwariskan oleh para leluhur kita. Dengan mempertahankan dan melestarikan nilai-nilai tradisi tersebut, diharapkan agar Aceh menjadi daerah tujuan wisata Islami yang berkharakter ke-aceh-an dengan menyandang predikat wisata halal di tingkat nasional dan internasional,” ungkapnya, Senin (16/7/2018).

Kepala UPTD Taman Seni dan Budaya Suburhan juga menambahkan, kegiatan “Pelatihan Seni Tari Ratouh Jaroe” ini juga menjadi bagian dari apresiasi karya aneuk nanggroe terhadap seni tari tradisional Aceh khususnya Tari Ratoh Jaroe.

“Kegiatan ini dilaksanakan untuk menyatukan rukun dan gerak Tari Ratoh Jaroe guna persiapan pelaksanaan Festival Tari Ratouh Jaroe bulan Oktober 2018,” sebutnya.

Legiatan ini sendiri, kata Suburhan didukung oleh 50 orang peserta dari beberapa sanggar dari Banda Aceh, Aceh Besar, dan Bireuen.

Tari Ratouh Jaroe sendiri dikembangkan oleh Dek Gam dari beberapa unsure tari seperti Ratouh Duk, Meuseukat, dan Saman sehingga menjadi tari Ratouh Jaroe.

“Dengan terselenggaranya kegiatan “Pelatihan Seni Tari Ratouh Jaroe” ini diharapkan agar terlahir para tenaga pelatih yang disiplin dan bertanggung jawab serta berorientasi pada pembangunan kebudayaan lokal sehingga dapat menjadi pelatih di sanggar tari masing-masing,” imbuh Suburhan.

Selain itu, dengan adanya kegiatan seperti ini, publik sekaligus masyarakat juga dapat lebih mengenal lagi tari-tari tradisional yang ada di Provinsi Aceh sehingga seni dan budaya Aceh dapat terus dilestarikan hingga ke anak cucu kita dan tetap terjaga keasliannya.