Disbudpar Aceh Gelar Festival Seni 2019 ‘Spirit Ruang Rasa Lintas Zaman’

Total Hadiah Rp. 34.500.000

293

Masih dengan semangat awal tahunnya Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Aceh melalui Bidang Bahasa dan Seni akan kembali menggelar semarak event Festival Seni (FS) se-Aceh yang bertemakan ‘Spirit Ruang Rasa Lintas Zaman’ berlangsung selama dua hari pada tanggal 29-30 Maret 2019 mendatang.

Kegiatan yang turut bekerja sama dengan Lembaga Seulanga memperebutkan total hadiah sebesar 34.500.000. Kegiatan ini berkesinambungan pada perhelatan tiga tahun yang lalu, secara bersama telah menyukseskan even yang serupa Tangloeng Dance Festival (TDF).

“Ajang festival ini insya Allah akan mencari juara yang bakal mengharumkan aceh di tingkat nasional nantinya,” kata Suburhan, Senin (4/2/2019).

Lembaga Seulanga dalam edisinya tiga tahun yang lalu, adanya TDF menjadi sebuah kisah bertahan dalam banyak hal. Misal, seperti upaya melawan banyaknya tantangan dalam usaha menempatkan tari dan Musik sebagai seni yang otonom dan layak untuk ditelisik dengan kritis.

Untuk merangkum keseluruhan isu kolaborasi dan koproduksi dengan penekanan pada pengalaman TDF yang telah berlalu, maka perlu di adakan pra TDF untuk dapat menyaring dan memberikan dampak sebagaimana dengan tema “Spirit Ruang Rasa Lintas Zaman” yang di lekatkan pada Festival Seni (FS) yang akan datang.

Untuk diketahui tari mempunyai pengaruh yang sangat kuat dalam genesis kesenian tradisional Aceh. Dalam kontek tradisional kesenian tersebut mampu membeberikan kontribusi yang sangat kuat beragam dari segi capaian estetik. Dapat dikatakan, antara satu jenis dengan jenis lain mempunyai kekhasan yang membentuk suatu pemaknaan masing-masing. Dengan demikian orisinalitas tari-tari tradisional tersebut sangat terjaga, itu tentunya hasil dari kesempurnaan eksplorasi masa lampau, meski anonim yang sangat mengagumkan.

Memang dalam satu dekade terakhir ada keinginan dari koreografer dan penata musik Aceh yang tak anonim untuk melakukan penjelajahan ke ruang yang di tawarkan tersebut. Sehingga, terlihat beberapa buah tarian yang melakukan penyimpangan estetik dari kontek tradisional.

Perkara ini bukan kesalahan. Tapi keniscayaan. Karena kesenian buakanlah tabung hampa yang menistakan diri dengan gairah perubuhan. Namun demikian tari tradisional terus menjadi sumur inspirasi bagi ekplorasi bentuk dan isi para koreografer yang bersimpang zaman. Maka, dari sumur tradisi kita kemudian mengenal istilah kontemporer, post tradisional dan kreasi baru, bagaimana berlaku untuk semua genesis seni lainnya. Menurut Kaka Ketua lembaga Sulanga melanjutkan.

Kesimpulan diatas mestinya dapat menjadi titik tolak bagi penjelajahan estetik untuk menjaga keberlangsungan suatu genesis berikutnya yang akan melimpahkan seni tari Aceh dengan nuansa-nuansa baru. Sederhananya, tari Aceh berangkat dari semangat kemudahan bagi koreografer-koreografer zaman berikutnya untuk terus gairah tersebut ke ruang penciptaan yang lebih menakjubkan.