fbpx

Anjungan Daerah Terus Berbenah Seminggu Jelang PKA VII

Road to Pekan Kebudayaan Aceh VII

588

Menjelang pelaksanaan Pekan Kebudayaan Aceh (PKA) VII yang tinggal sepekan lagi, seluruh kabupaten/kota terus berbenah. Anjungan kabupaten/kota di kompleks Taman Sultanah Safiatuddin (Tasulsa) Banda Aceh mulai dipermak kembali untuk menyambut hajatan kebudayaan terbesar di Aceh itu.

Amatan di lokasi pagi tadi, Sabtu (28/7/2018), hampir seluruh anjungan di Tasulsa sedang dalam pengerjaan. Bahkan beberapa di antaranya telah memasuki tahap penyelesaian. Tinggal menunggu kedatangan barang-barang yang akan dipamerkan saat PKA VII berlangsung pada 5-15 Agustus 2018.

Hampir di setiap anjungan terlihat ada pekerja. Di antara mereka ada yang sedang mengecat, membersihkan lantai, hingga menyiangi rumput liar. Tak hanya di anjungan, panggung utama di arena PKA juga sedang dipermak. Sejumlah pekerja dan properti terlihat di depan panggung. Anjungan-anjungan di dalam kompleks tampak lebih segar dan cerah karena umumnya telah dicat ulang.

Di sisi lain, para pekerja juga terlihat sedang mempersiapkan stan di taman yang dipersiapkan untuk Aceh Culinary Expo. Beberapa teratak telah dipasang. Para pekerja tersebut mengaku harus kejar tayang agar bisa selesai tepat waktu. “Totalnya ada 22 stan yang akan kami siapkan hingga ke ujung sana,” kata salah satu tukang.

Kabupaten Aceh Timur dan Kabupaten Nagan Raya adalah dua di antara 23 kabupaten/kota lainnya yang sudah siap menyambut PKA. Anjungan Kabupaten Aceh Timur yang berdampingan dengan Anjungan Kota Langsa tampak sangat atraktif dan indah setelah dicat ulang.

Jika sebelumnya hanya didominasi warna cokelat gelap, kini diberi polesan warna merah, kuning, dan hijau. Warna-warni khas Aceh ini melengkapi penambahan ornamen ukir yang dipasang di setiap jendela.

“Semua ornamen ini dibawa dari Aceh Timur,” kata Jubir, yang bertugas mengawasi kerja para tukang yang juga dibawa dari Aceh Timur.

Di halaman anjungan juga terlihat sejumlah pot berisi aneka bunga yang juga dibawa dari Aceh Timur. Bunga-bunga itu nantinya akan ditata untuk memperindah taman. Pihaknya juga akan menanam bunga jeumpa dan seulanga yang menjadi bunga khas Aceh.

“Tanggal 2 Agustus Insya Allah sudah selesai semua kita kerjakan, tinggal mendekorasi ruangan saja nanti. Nanti juga akan dibawa miniatur Monumen Islam Asia Tenggara atau Monisa ke sini,” kata Jubir antusias.

Hampir seluruh bangunan Anjungan Aceh Timur terbuat dari material kayu, kecuali fondasi untuk tiang bangunan yang terbuat dari material semen. Dindingnya terbuat dari kayu dengan ketaman khusus sehingga tampak artistik, lantainya juga terbuat dari kayu nibung yang awet dan tahan lama. Langit-langitnya dan dinding dapur dilapisi material dari jalinan kulit rumbia.

“Kecuali atap, yang terbuat dari seng, seharusnya dari daun rumbia juga supaya kesan tradisionalnya lebih kental, tapi itu tidak mengurangi keindahan anjungan ini,” kata Jubir lagi.

Dengan material yang seluruhnya terbuat dari kayu , menjadikan Anjungan Aceh Timur terasa sejuk saat kita berada di dalam. Jubir juga mengatakan, anjungan ini merupakan perwujudan rumah adat Aceh Timur yang merepresentasikan betapa heterogennya masyarakat kabupaten tersebut.

Jubir berharap usaha daerahnya itu tidak sia-sia dalam memaksimalkan persiapan untuk PKA. “Harapan kami supaya nanti bisa terpilih sebagai anjungan terbaik,” katanya.

Ungkapan senada juga disampaikan Budi dari Kabupaten Nagan Raya. Bahkan kata Budi, panitia telah membawa barang-barang untuk kebutuhan pameran ke anjungan. Semua itu dilakukan agar bisa maksimal dalam mempersiapkan tampilan anjungan.

Amatan di lokasi pagi tadi, anjungan itu telah memasuki tahap finishing untuk renovasi. Pemkab Nagan Raya membuat gerbang baru sebagai pintu masuk menuju area anjungan, juga sebuah panggung mini yang ada di samping anjungan.

Di dalam anjungan, langit-langit ruangannya telah didekorasi dengan kain-kain berwarna khas Aceh. Seperangkat pelaminan juga sedang dipersiapkan.

“Barang-barangnya sudah dua hari yang lalu dibawa. Yang menghiasi langit-langit anjungan seperti ini cuma kami saja, yang lain boleh dicek pasti tidak ada,” kata Budi sumringah.

Budi juga turut mempromosikan dua kuliner daerahnya yaitu gulee jruek dan telur asin dengan kualitas terbaik. Gulee jruek merupakan sayuran yang diracik khusus dengan asam durian yang telah difermentasi. Rasanya gurih dengan campuran rasa asam buah yang segar. Menurut Budi hidangan ini akan dipamerkan juga nanti saat PKA berlangsung.

Pemandangan yang tak kalah sibuknya juga terlihat di area luar kompleks. Sejumlah truk pengangkut tanah berlalu-lalang untuk menimbun area yang akan dijadikan lokasi Pasar Rakyat. Beberapa alat berat juga terlihat di lokasi.

PKA VII merupakan ajang kebudayaan terbesar di Provinsi Aceh. Event ini pertama kali digelar 60 tahun silam, tepatnya pada tahun 1958. PKA telah membangkitkan spirit masyarakat Aceh untuk bangkit setelah melewati kondisi-kondisi sulit. Kali ini PKA VII mengambil tema “Aceh Hebat dengan Adat Budaya Bersyariat”.

Source PKA VII