Al-Qur’an Wangi, Jadi Daya Tarik Wisata Religi Aceh Barat

Koleksi Sudarman Alwy
65

Keindahan pantai lintas barat Aceh memang tidak diragukan lagi, daerah yang berbatasan langsung dengan Samudera Hindia ini memang memiliki alam yang begitu indah.

Selain bisa menikmati alam dan pesona kopi khop, Aceh Barat juga menjadi salah satu daerah yang terkenal dengan pahlawan nasional, Teuku Umar.

Tidak hanya itu, ada juga objek wisata religi yang masih terbilang misterius berada disana, yakni Al-Qur’an Panton Reu yang lebih dikenal dengan sebutan Al-Qur’an Wangi, yang merupakan warisan sejarah yang berusia ratusan tahun.

Kepala Dinas Pariwisata, Kebudayaan, Pemuda dan Olahraga (Disparbudpora) Kabupaten Aceh Barat Muhammad Ali Taufik, mengaku kalau Al-Qur’an yang terletak di Gampong Meugo Rayeuk Kecamatan Panton Reu tersebut telah berusia lebih dari 700 tahun dan Al-Qur’an itu memiliki keunikan tersendiri.

“Al-Qur’an Panton Reu yang lebih dikenal dengan sebutan Al’Quran Wangi itu merupakan warisan sejarah peninggalan Syekh Maulana Malik Ibrahim yang dibawa dari tanah Arab pada abad ke-13 atau tahun 1235 Masehi,” pungkas Alto, sapaan akrab Muhammad Ali Taufik.

Bentuk luar dari Al’Quran wangi

Dijelaskan, Syekh Maulana Malik Ibrahim memiliki dua orang putra yaitu Malikus Saleh dan Abdul Samad, putra kedua Syekh Maulana Abdul Samad saat itu menetap di Pidie dan Al’Quran itu juga dibawa bersama.

Selanjutnya Abdus Samad mewariskan Al’Quran itu kepada putranya Tgk Chik Adam, yang akhirnya Tgk Chik Adam membawa Al’Quran Wangi tersebut ke Gampong Meugo Rayeuk dan hingga saat ini Al’Quran Wangi yang dibawa dari tanah Arab masih berada di Gampong Meugo Rayeuk Kecamatan Panton Reu Kabupaten Aceh Barat.

“Al’Quran yang memilik panjang 25 centimeter, lebar sekitar 20 centimeter dan memiliki isi 30 juz tersebut masih menyimpan misteri. Seperti bahan dasar apa yang menyebabkan Al Qur’an tersebut wangi sehingga tidak lengkang oleh waktu,” sebut Alto.

Ketika pihak Disparbudpora melakukan kunjungan sekaligus bersilaturahmi dengan Ibu Maneh, penjaga Al’Quran itu, Ibu Maneh mengatakan bahwa kertas bahan yang digunakan saat membuat Al’Quran adalah berasal dari kayu yang dinilai langka dan hanya ada pada masanya.

Ruangan penyimpanan Al’Quran wangi

“Bahkan para peneliti yang datang sebelum tsunami melanda Aceh belum mampu mengungkap bahan dasar apa pembuatan Al’Quran tersebut,” jelas Alto.

Tidak hanya itu, kisah-kisah keramat lainnya juga menambah keistimewaan Al’Quran Wangi ini, seperti kisah orang yang bersumpah dengan Al’Quran Wangi, namun saat melanggarnya menderita berbagai macam penyakit hingga ada yang meninggal dunia.

Untuk melihat secara langsung fisik Al’Quran Wangi, kita harus menempuh jarak hingga 30 kilometer lebih dari ibu kota Kabupaten Aceh Barat, Meulaboh.

“Selama ini masyarakat umum baik di Aceh Barat maupun kabupaten lain hanya mengetahui Al’Quran Panton Reu ketika adanya momen tertentu, seperti ada kegiatan MTQ atau momen kegiatan keagamaan lainnya,” ujar Ali Taufik.