fbpx

Aceh akan Kembangkan Nomadic Tourism

Pilot Project untuk Singkil, Bener Meriah, Aceh Tengah

19

Pemerintah Aceh akan mengembangkan nomadic tourism, wisata baru yang wisatawannya dapat menetap dalam kurun waktu tertentu di suatu destinasi wisata dengan amenitas yang portable dan dapat berpindah-pindah.

Plt Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Kadisbudpar) Aceh, Amiruddin menyampaikan hal ini dalam materinya pada rapat koordinasi (Rakor) bidang kebudayaan dan pariwisata tahun 2018, di Aula Serbaguna, Kantor Gubernur Aceh, Banda Aceh, Rabu (11/4/2018).

Sebagai pilot project, nomadic tourism akan dikembangkan di tiga kabupaten yaitu Singkil, Bener Meriah, dan Aceh Tengah. Program ini tentu untuk meningkatkan kunjungan wisatawan ke Aceh.

Ia menyebutkan ketiga kabupaten itu dipilih karena memiliki potensi wisata untuk pengembangan nomadic tourism. Untuk ke depan juga akan dilakukan di kabupaten/kota lainnya yang berpotensi.

“Contohnya Pulau Banyak, Kabupaten Singkil memiliki potensi wisata, namun di sana juga tidak tersedia fasilitas-fasilitas seperti hotel, restoran, maka kita coba dengan nomadic tourism karena kita melihat turis sudah banyak ke sana,” katanya.

Amiruddin menambahkan untuk pengembangan gaya wisata baru tersebut, pihaknya sudah mulai memprogramkannya tahun ini. Ke depan dalam pembangunannya, pihaknya juga akan menggandeng pihak ketiga atau pengusaha.

“Kita siapkan SDM-nya untuk dilakukan pembinaan. Dalam pengembangannya menggunakan APBA, kita usahakan tahun depan,” janjinya.

Menurutnya, nomadic tourism yang dapat dikembangkan di tiga kabupaten itu adalah Glamour Camping (Glamping), yakni tempat camping, namun dengan fasilitas akomodasi kelas bintang. Glamping kini menjadi tren berlibur gaya baru di seluruh dunia karena wisatawan ingin mendapatkan pengalaman menyatu dengan alam, namun tetap mendapatkan layanan akomodasi layaknya di hotel berbintang.

“Tidak harus ada hotel di sana, tapi bisa juga mengubah peti kemas menjadi seperti hotel berbintang tiga. Bisa juga camping ground, tendanya dan fasilitas lain disediakan oleh pemerintah daerah atau pihak ketiga. Wisatawan datang hanya menyewa saja,” jelasnya seraya menambahkan Pemkab harus menyediakan lokasi dan fasilitas pendukung lain, seperti listrik dan air.

Sementara Asisten Deputi Pengembangan Destinasi Regional I Deputi Bidang Pengembangan Destinasi Pariwisata Kementerian Pariwisata, Lokot Ahmad Enda mengharapkan nomadic tourism tersebut dapat dikembangkan di Aceh.

Selain Glamping, fasilitas nomadic tourism lainnya yaitu Caravan. Hotel karavan ini dapat berpindah harian atau mingguan untuk mencari spot-spot terindah di suatu destinasi wisata.

Selanjutnya, Home Pod atau “rumah telur” yang juga bisa portable. Jika karavan bisa berpindah dalam ukuran hari, glam camp bulanan. Maka home pod bisa enam bulan atau setahun dipindah. Hal itu karena home pod ini semi fixed dengan berat sekitar 2 ton dan bisa dibongkar.

Pada kesempatan yang sama, Gubernur Aceh, Irwandi Yusuf dalam sambutannya dibacakan Staf Ahli Bidang Perekonomian, Keuangan, dan Pembangunan, T Syakur menyebutkan terdapat 803 objek wisata dan 774 cagar budaya yang tersebar se-Aceh.

“Potensi itu tentunya harus dapat kita berdayakan dengan melibatkan peran serta masyarakat, para pelaku industri pariwisata dan budaya, serta stakeholder terkait lainnya,” katanya.

Dengan kerja sama semua pihak, mereka berharap sektor kebudayaan dan pariwisata dapat menjadi leading sector bagi keberlanjutan pembangunan Aceh dan menjadi penopang pertumbuhan ekonomi daerah.

“Untuk itulah, Pemerintah Aceh dalam RPJM 2017-2022 menempatkan sektor kebudayaan dan pariwisata salah satu dari 15 sektor andalan progam `Aceh Hebat’ sebagaimana tertuang dalam Program Aceh Meuadab,” tambahnya.

T Syakur menambahkan untuk menyukseskan langkah tersebut berbagai rancangan kegiatan sudah dipersiapkan, di antaranya mendukung pembukaan rute penerbangan Banda Aceh-Singapura, meningkatkan frekuensi penerbangan Sabang-Medan dan Bener Meriah-Medan, membuka jalur laut Sabang-Phuket-Langkawi, serta membenahi prasarana transportasi jalan lintas di Aceh, dan mendukung penataan amenitas di beberapa objek daya tarik wisata.

Via tribunnews.com