fbpx

16 Lokasi ini Akan Membuat PKA VII Berbeda dari Sebelumnya

Road to Pekan Kebudayaan Aceh VII

60

Pekan Kebudayaan Aceh (PKA) VII yang siap digelar pada 5 – 15 Agustus 2018 mendatang dikemas dengan konsep berbeda. Salah satunya pemilihan lokasi acara yang tidak hanya terpusat di satu lokasi.

Jika selama ini PKA hanya dilangsungkan di satu titik di Taman Sulthanah Safiatuddin, maka kali ini ada 15 titik lain yang menjadi sentral perhelatan ajang kebudayaan terbesar di Provinsi Aceh itu. Pembagian lokasi ini untuk memberikan kenyamanan bagi pengunjung agar bisa leluasa menikmati setiap suguhan acara kebudayaan.

Plt. Gubernur Aceh Nova Iriansyah selaku Ketua Panitia PKA VII mengatakan, Taman Sulthanah Safiatuddin tetap menjadi lokasi utama penyelenggaraan PKA. Di sini terdapat 23 anjungan dari kabupaten/kota yang menjadi lokasi bagi masing-masing daerah untuk memamerkan aneka produk kebudayaannya.

“Sementara untuk pembukaan akan kita langsungkan di Stadion Harapan Bangsa Lhong Raya,” katanya, Selasa (17/7/2018).

Stadion ini memiliki kapasitas 45 ribu tempat duduk dan pernah menjadi salah satu stadion termegah di Indonesia pada tahun 2000.

Meuligoe Wali Nanggroe Aceh juga akan dipilih sebagai lokasi seremonial Anugerah Budaya kepada tokoh-tokoh yang berprestasi di bidang kebudayaan Aceh. Panitia telah menentukan lima jenis penghargaan yang akan dianugerahkan nantinya yaitu Anugerah Budaya Meukuta Alam, Anugerah Budaya Tajul Alam, Anugerah Budaya Perkasa Alam, Anugerah Budaya Sri Alam, dan Anugerah Budaya Syah Alam. Anugerah budaya ini akan berlangsung pada 13 Agustus 2018.

Sedangkan lokasi pameran masing-masing akan dilangsungkan di Taman Sulthanah Safiatuddin sebagai lokasi Pameran Kebudayaan Aceh, Museum Aceh sebagai lokasi Aceh History Expo, Taman Gunongan untuk lokasi Pameran Kepurbakalaan, Kerkhof sebagai lokasi Pameran Etnografi, Museum Ali Hasyimi untuk lokasi Pameran Literatur, dan Museum Tsunami Aceh sebagai lokasi Pameran Kebencanaan.

Beberapa tempat lainnya yang akan menjadi lokasi PKA VII adalah Taman Sari (Taman Bustanussalatin), Taman Seni dan Budaya, Anjong Mon Mata, serta Lapangan Blang Padang. Karena lokasinya yang strategis dan berada di pusat kota, Blang Padang akan menjadi lokasi untuk beberapa kegiatan sekaligus seperti pasar rakyat dan pemutaran film melalui media layar tancap.

Lapangan Tugu Darussalam akan dipilih sebagai lokasi untuk perlombaan permainan rakyat yaitu lomba geunteut atau engrang dan poh gaseng. Lapangan seluas empat hektare ini memiliki nilai-nilai penting karena menjadi simbol pendidikan Aceh. Tugu ini diresmikan pada 1959 oleh Soekarno, menjadi awal lahirnya Kota Pelajar Mahasiswa (Kopelma) Darussalam.

Tak jauh dari Darussalam, Krueng Aceh/Krueng Lamnyong akan dipilih sebagai lokasi untuk Festival Krueng Aceh. Suguhan utamanya adalah perlombaan dayung perahu. Sungai ini berhulu ke pegunungan di Aceh Besar dan menjadi sumber air bagi warga Banda Aceh dan Aceh Besar.

Dua lokasi terakhir adalah Gedung Sultan II Selim dan Hermes Palace Hotel. Tempat ini masing-masing akan digunakan sebagai lokasi seminar kebudayaan dan kemaritiman, serta kegiatan bazar wisata dan table talk.

Source PKA VII